Kamis, 13 November 2014

LAPORAN PRAKTEK LAPANG TINJAUAN TERHADAP USAHATANI BIBIT JERUK (Citrus sp.) PADA UNIT PEMBENIHAN INDUK TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA ANJONGAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
            Jeruk (Citrus. Sp) adalah tanaman yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia dan dinegara-negara tropis Asia lainnya. Sebab tanaman jeruk memang berasal dari negara-negara  tropis Asia, termasuk diwilayah Indonesia. Maka tidak mengherankan  kalau orang-orang dari Eropa tertarik terhadap jeruk Indonesia dan kawasan Asia umumnya.Di Indonesia sejarah tanaman jeruk tidak begitu dikenal. Tanaman jeruk yang ada sekarang ini adalah merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Belanda.Mereka mendatangkan jeruk-jeruk manis dan keprok dari Amerika, italia.  Namun sampai sekarang beberapa jenis jeruk siam, jeruk garut, dan jeruk batu. Dalam usaha Hortikultura dikenal tiga tingkatan, yaitu : Tingkat ilmiahnya, tingkat keseniannya dan tingkat usahanya. Tingkat ilmiahnya menyangkut bidang penelitian atau pengetahuan tentang pembiakan, pembuahan, peningkatan mutu, peningkatan hasil, penyimpanan, pengolahan, pembasmian hama dan penyakit, tingkat keseniannya berbentu keterampilan menyemai, memindahkan, mencangkok,    okulasi, pemangkasan, pemeliharaan dan sebagainya.
Kebutuhan konsumen yang cukup tinggi akan tanaman hortikultura menyebabkan usaha pengadaan bibit tanaman hortikultura terutama pada tanaman jeruk, umumnya dilakukan secara vegetatif. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya, memperbaiki sifat tanaman dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat (Sunarjono,1987).
            Sebelum bergerak lebh jauh, institusi pembenihan perlu pemantapan langkah-langkah seperti perbaikan, penambah sarana kantor dan penambahan serta pemeliharaan serta penambahan sarana pembenihan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kerja dan mengantisipasi kedepan yang akan dijadikan tempat wisata agro benih serta untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan pengunjung. Disamping pengembangan kelembagaan tani seperti penangkaran benih melalui pembinaan teknik produksi benih. Pengembangan industry pembenihan di UPITPH diarahkan kepada pengembangan pohon-pohon induk dengan sistem klonalisasi menurut mekanisme Blok Pondasi dan Blok penggandaan mata tempel. Pohon induk yang ada di BPMT diperbnyak lagi dipenangkar menjadi Blok perbanyakan benih, dari sinilah baru diperbanyak  menjadi benih sebar yang siap disalurkan kepada petani. Jadi keberadaan penangkar merupakan perpanjangan tangan dari institusi pembenihan (UPITPH). Keperluan mata entris / pucuk untuk penangkar dapat disuplai dari UPITPH. Hal ini memudahkan pemantauan dan evaluasi terhadap tanaman yang dikembangkan. Karena itu penangkar harus selalu dibina dan dibudidayakan (Provil UPITPH, 2006).


B.     Tujuan Praktek Lapang
1.      Tujuan umum
a.       Melatih mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dibangku kuliah untuk diterapkan dilapangan serta dapat menambah pengetahuan.
b.      Dapat mengamati, memahami dan menganalisa semua permasalahan yang ditemukan dilapangan serta berusaha mencari alternatif pemecahan masalah tersebut.
c.       Sebagai studi perbandingan antara teori yang telah didapat dalam perkuliahan dan pelaksanaan teknis dan kenyataan dilapangan.

2.      Tujuan khusus
                  Diharapkan setelah melaksanakan kegiatan praktek lapang ini mahasiswa dapat mengetahui dan memahami keadaan serta permasalahan yang ada dilapangan khususnya permasalahan yang ada di UPITPH Anjongan.

C.     Metode Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan praktek lapang, pengumpulan data dan informasi dilakukan empat metode, yaitu :
1.      Metode wawancara
      Wawancara dilakukan dengan pimpinan, staf teknis dan pekerja
lapangan UPITPH Anjongan untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan.


2.      Metode observasi
Observasi dilakukan untuk melihat dan meninjau secara langsung keadaan dan kegiatan yang dilaksanakan oleh UPITPH Anjongan.
3.      Metode Praktek Lapang
Mahasiswa dituntut untuk dapat mempraktekan secara langsung dilapangan.
4.      Studi Kepustakaan
Mencari data-data yang diperlukan melalui pustaka-pustaka untuk menunjang informasi yang diperoleh dilapangan serta mencari alternatif pemecahan masalah yang ditemukan.






















BAB II
KEADAAN UMUM

A.     Keadaan Umum Lokasi Praktek Lapang
1.      Letak Geografis, Luas dan Batas Wilayah
      Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPITPH) Anjongan terletak dikelurahan Anjongan Melancar, Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Pontianak. Jarak dari ibu kota provinsi Kalimantan Barat kurang lebih 65 km, dari Ibu kota Kabupaten Pontianak yaitu Mempawah kurang lebih 25 km, dan Kecamatan Sungai Pinyuh kurang lebih 15 km. Luas wilayah UPITPH Anjongan seluruhnya  9,5 Ha, dengan batas wilayah sebagai berikut :
a.       Sebelah Timur berbatasan dengan balai Diklat Pertanian.
b.      Sebelah Barat berbatasan dengan Perumahan Penduduk.
c.       Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan raya.
d.      Sebelah Utara berbatasan dengan Kampung Jagung.
2.      Topografi dan Jenis Tanah
      Wilayah UPITPH Anjongan umumnya bertopografi datar, bergelombang dan berbukit. Ketinggian tempat da permukaan laut antara 8-12 meter. Jenis tanah didominasi oleh tanah podsolid Merah Kuning (PMK) dengan bahan induk batuan beku, memiliki struktur tanah remah sampai menggumpal, tekstur tanah liat berdebu dan mempunyai kedalaman top soil ± 10 cm dengan kisaran PH sekitar 4 – 5.
3.      Iklim
      berdasarkan data keadaan iklim yang diperoleh dari stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) UPITPH untuk bulan Juli, Agustus dan September dapat dilihat dilampiran 1. Suhu udara berkisar 27,4°c dan suhu maksimum 31,5°c. Rata–rata kelembaban nisbi 82% dengan kecepatan angin rata-rata 0,96 km/jam.



B.     Sejarah Berdirinya UPITPH Anjongan
            UPITPH Anjongan dikenal sebagai Balai Benih Induk Hortikultura (BBIH) pada tahun 1992. Sebelumnya Balai Benih Induk Hortikultura Anjongan dikenal dengan Pusat Latihan Kerja Pertanian (PLKP) yang berdiri pada tahun 1960. Selanjutnya pada tahun 1970, PLKP tersebut berubah menjadi Pusat Latihan Pertanian (PLP), yang kemudian diubah fungsi menjadi Balai Benih Induk Hortikultura Anjongan berdasarkan keputusan Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan No. 1.A.S.82.6 yang ditetapkan di Jakarta pada tahun 1982 tetapi baru berfungsi pada tahun 1984 (UPITPH) Anjongan,2011.
            Secara otonomi daerah pada tahun 2002, berdasarkan keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 5  Tahun 2002, Balai Benih Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPITPH).  UPITPH merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPD) tipe B berkedudukan di Anjongan dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Kalimantan Barat.
C.     Tugas, Fungsi dan Peranan UPITPH Anjongan
            UPITPH Anjongan bertugas sebagai pelaksanaan teknis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dibidang perekayasa teknis pembudidayaan tanaman pangan dan hortikultura serta pengujian mutu benih berdasarkan peraturan perundang-undangan yaitu berlaku :
            Berdasarkan surat keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 15  Tahun 2002 maka fungsi dan peran UPITPH adalah sebagai berikut :
1.      Perencanaan dan Pelaksanaan Produksi Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP) tanaman pangan dan hortikultura.
2.      Pemeriksaan, Pengujian dan Pengawasan mutu varietes unggul tanaman pangan dan hortikultura.
3.      Pelaksanaan pemurnian kembali varietes unggul tanaman pangan dan hortikultura yang sudah lama beredar.
4.      Pelaksanaan pelayanan teknis instalasi kebun benih tanaman dan pelayanan kebutuhan informasi kegiatan teknis budidaya tanaman pangan dan hortikultura.
5.      Pelaksanaan fasilitas studi dan penelitian benih dan penelitian benih pertanian tanaman pangan dan hortikultura.
6.      Pelaksanaan urusan ketatausahaan.
7.      Pelaksanaan tugas lain dibidang pembenihan tanaman pangan dan hortikultura yang diserahkan oleh Kepala Dinas.
D.    Visi dan Misi UPITPH Anjongan
1.      Visi
      Unit pembenihan tanaman pangan dan hortikultura Provinsi Kalimantan Barat mempunyai visi :
a.       Tangguh, bahwa kegiatan pengembangan industri pembenihan menuju kearah kemandirian dan tahan terhadap pengaruh/ tekanan lingkungan yang kurang kondusif serta pengaruh krisis global.
b.      Modern, diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna secara kreatif, inovatif, dan antisipatif.
c.       Berbasis kerakyatan dalam upaya pengembangan industry benih, penangkaran benih dan benih desa.
d.      Berdaya saing, diwujudkan melalui peningkatan mutu benih berbasispemuliaan, peningkatan pelayanan, teknis benih, perbaikan kualitas benih, dan perluasan pemasran.
e.       Ramah lingkungan, akan diwujudkan melalui penerapan teknogi yang ramah lingkungan dengan pertanian organik.


2.      Misi
a.       Melaksanakan dan mengembangkan produksi benih bermutu, murni dan bebas hama dan penyakit yang berdaya saing, berbasis permuliaan dan keunggulan komperatif.
b.      Mendorong peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pembenihan aparat, Petani penangkar, siswa, masyarakat, swasta/stake holder pembenihan.
c.       Mendorong pengembangan IPTEK terapan dibidang industri pembenihan yang modern dan ramah lingkungan.
d.      Memberikan pelayanan prima mengenai teknis instalasi kebun benih dan kebutuhan informasi kegiatan teknis budidaya tanaman pangan dan hortikultura.
e.       Mendorong penyebarluasan penggunaan benih bermutu kepada masyarakat, pengawalan benih yang disebarluaskan dan melaksanakan pemurnian kembali benih varietes unggul yang sudah lama beredar (UPITPH Anjongan,2014).
E.     Sarana yang Tersedia di UPITPH Anjongan
            Adapun sarana yang tersedia di UPITPH Anjongan adalah :
1.      Kantor
      Luas kantor 200 m² yang dilengkapi dengan ruang siding, ruang kepala, dan ruang khusus karyawan.
2.      Tempat Pembibitan Buah-buahan
      Terdiri dari bangunan dengan ukuran 5 x 7 m², atap paranet dengan itensitas penyinaran 50 % dan 75 %. Dewasa ini sebagai tempat perbanyakan tanaman. Pada tempat ini dilakukan pemeliharaan tanaman yang berasal dari persemaian sebagai batang bawah dan tempat pemeliharaan bibit perbanyakan.
3.      Blok Fondasi (BF)
      Blok Fondasi (BF) merupakan bangunan khas dengan konstruksi  tiang besi, dinding dan atapnya dari kawat kasa. Luas bangunan ini sekitar 780 m³, dengan tinggi 5 m, panjang 26 m dan lebar 26 m. Blok fondasi berisi tanaman jeruk bebas penyakit untuk menghasilkan mata tempel yang optimal. Tanaman jeruk di BF dengan sistem tanam dalam 2 m x 2 m. Blok fondasi merupakan tempat yang berfungsi sebagai sumber mata tempel untuk BPMT.
4.      Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT)
      BPMT memiliki konstruksi bangunan yang sama dengan Blok Fondasi (BF) dengan ukuran 26 m, lebar 6 m, dan tinggi 3,5 m. BPMT  berfungsi sebagai mata tempel atau mata okulasi untuk tanaman siap sebar. Tanaman jeruk di BPMT ditanam dengan sistem tanam secara bedengan, dalam 1 bedengan terdapat 2 baris tanaman. Lebar bedengan yang dibuat dengan ukuran 60-80 cm dan tingginya 20-30 cm. Jarak tanam antar baris 40-50 cm dan dalam baris 20-25 cm Tanaman jeruk yang ada di BPMT merupakan hasil perbanyakan langsung dari BF.
5.      Pre-Nusery
      Pre-Nusery merupakan tempat penanaman bibit atau pembibitan awal yang dipergunakan sebagai batang bawah berumur 1-3 bulan. Bangunan ini memiliki konstruksi bangunan dengan tiang besi, dinding kawat kasa berukuran panjang 22 m, lebar 6 m, dan tingginya 2,5 m berisi semaian jeruk untuk dijadikan batang bawah.
6.      Nusery
      Nusery adalah tempat lanjutan dari Pre-Nusery sebelum dilaksanakan pengokulasian yang berumur 3-6 bulan. Mempunyai konstruksi bangunan dan ukurannya sama dengan Blok Fondasi (BF).
7.      Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK)
      Stasiun Meteorologi berfungsi sebagai pencatatan data iklim diwilayah tersebut. Luasnya 20 m x 20 m, yang dikelilingi pagar kawat dengan tinggi 1,2 m.  SMPK ini terletak ditengah-tengah tanah yang terbuka dengan permukaan yang rata-rata terdiri dari beberapa alat seperti :
Psycrometer, thermometer, solarimeter, cup anemometer stasion, panc evavorasi kelas A dan ombrometer.
8.      Gudang
a.       Gudang benih
      Luas gudang benih ± 200 m² dengan ventilasi yang luas dengan diberi kawat agar burung dan tikus tidak dapat masuk. Gudang ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan benih.
b.      Gudang Alat Pertanian
      Luas gedung ini sekitar 120 m² yang digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian dan tempat perbaikan alat pertanian yang rusak.
c.       Gudang pestisida
      Digunakan sebagai tempat penyimpanan pestisida seperti insektisida, herbisida, dan fungisida serta bahan kimia lainnya.
d.      Gudang pupuk
      Digunakan untuk penyimpanan pupuk serta alat-alat untuk pengokulasian dan lain-lain.
9.      Screen Tanaman Hias
      Screen tanaman hias ini berisi berbagai jenis tanaman hias. Di screen house ini hanya khusus untuk tanaman hias yang memerlukan itensitas penyinaran matahari yang rendah.
10.  Laboratorium
      Laboratorium terdiri dari beberapa ruangan yaitu ruangan staf, ruangan tempat penyimpanan dan pembersihan alat, ruangan sterilisasi, ruangan asam dan bahan kimia lain, ruangan subkultur, dan ruangan untuk penyimpanan hasil subkultur.
11.  Tempat penginapan (MESS)
      Mess terdiri dari 20 kamar yang berfungsi untuk tempat penginapan anak-anak yang mengadakan praktek lapang maupun magang di UPITPH Anjongan.








BAB III
            PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG
 A. Tempat dan Waktu   Pelaksanaan
               
Praktek lapang dilaksanakan di UPITPH Anjongan Provinsi Kalimantan Barat Anjongan Kabupaten Pontianak. Praktek lapang ini berlangsung selama 1 bulan mulai tanggal 8 September sampai dengan 8 Oktober 2014.
B. Kegiatan         Praktek           Lapang
                   Kegiatan praktek lapang ini secara garis besar dapat dibagi
      dalam dua jenis kegiatan yaitu dilapangan dan dikantor, kegiatan meliputi :
 1. Kegiatan di    kantor
a.    Mengikuti pelatihan yang diadakan di UPITPH Anjongan.
b.    Pembekalan materi.
2.  Penyusunan  Program          Kerja
 
a.   Program kerja praktek lapang disesuaikan dengan jadwal kerja yang ada di UPITPH Anjongan agar dapat mempermudah dalam pelaksanaanPraktek lapang.
b.   Pengenalan tempat pohon induk tanaman jeruk, Pohon induk tersebut digunakan untuk dapat menghasilkan entris sambungan dan okulasi siap sebar kepetani.
c.  PengumpulandataKegiataninibertujuan untuk mencari data-data sebagai masukkan untuk pembuatan laporan praktek lapang diruang tata usaha.Data-data tersebut antara lain Lokasi UPITPH Anjongan, laporan blokpenggandaan mata tempel, data iklim, data analisis usaha tani produksi bibit jeruk dan struktur organisasi UPITPH Anjongan.     

d.   Diskusi dengan pimpinan dan staf UPITPH                                                                  Diskusi ini dilaksanakan agar mahasiswa mengetahui keadaan kegiatan serta permasalahan yang ada di UPITPH Anjongan dan diharapkan mahasiswa dapat membahas dan mencari alternative pemecahan masalah yang ada.
3.  Kegiatan di lapangan
  a.            Pengenalan batang bawah
Batang bawah yang digunakan dalam penempelan (okulasi) adalah jenis Japanese citroen (Jc). Menurut informasi yang didapat dari UPITPH Anjongan, Selama ini untuk bibit batang bawah jenis Japanese citroen (Jc) masih didatangkan dari luar Kalimantan Barat yaitu berasal dari pulau Jawa.       Hal ini disebabkan sulitnya mendapatkan bibit dari petani yang pada umumnya tidak diusahakan secara besar-besaran serta kurangnya pengetahuan tentang cara menghasilkan bibit yang bebas penyakit.  Keuntungan dari Japanese citroen (Jc) adalah tahan terhadap banjir dan kekeringan yang berkepanjangan.
b.  Cara perbanyakkan
1.  Persiapan media tanah dan sterilisasi media
                        Media yang digunakan yaitu top soil, sekam, pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2 : 1 yang kemudian disterilisasi yaitu dengan cara memasukkan media kedalam drum berisi air yang dipanaskan sampai  80°c atau selama 30 menit (suhu dalam media).  Setelah disterilisasi media dimasukkan kedalam polibag yang berukuran 7,5 cm x 22 cm dan diisi media ¾ nya.


2.  Penyemaian
                        Penyemaian benih jeruk dilakukkan di Pre Nurserey sampai benih tumbuh dan berumur 3 bulan, pada pelaksanaan persemaian.  Benih tanaman jeruk pada bagian lancipnya pada posisi bawah, jarak antara benih 1 cc x 0,5 cm dengan kedalaman tanam pada media semai 30 cm.


3.   Seleksi bibit
                        Bibit yang diambil adalah hasil pembiakkan generative yang memiliki pertumbuhan yang baik dengan kriteria pertumbuhan antara lain tingginya seragam, sehat, bebas hama dan penyakit, diameter batang seragam dan berbatang lurus.
4.  Penanaman
                        Bibit yang berumur  ± 3 bulan  dan memiliki kriteria pertumbuhan yang baik sehingga dapat dipindahkan ke polibag dan siap untuk di okulasi.
5.  Pemeliharaan batang bawah
                        Dilakukan pemangkasan tunas saat bibit berumur 3 bulan sampai siap diokulasi. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari. Apabila terdapat gulma dilakukan penyiangan,untuk menghindari serangan hama dan penyakit dapat dilakukan pengontrolan secara rutin agar apabila terdapat gejala serangan dapat dikendalikan sedini mungkin.
6.  Pengambilan mata entries
                        Mata entries yang diambil adalah yang mengarah atau tegak keatas dan tidak bengkok atau mudah lentur. Mata entries diambil dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) yang sudah berumur 6 bulan setelah tanam.
7.  Perbanyakkan vegetatif dengan okulasi
                        Bibit batang bawah dapat menggunakan jenis Japanese citroen (Jc), Citrus nobilis (NC), Rought lemon (RL) dan jeruk manis. Varieties Japanase citroen (JC) selain harganya terjangkau, jenis ini juga tahan terhadap penyakit busuk akar phytophtora, serangan nematoda, penyakit roboh kecambah dan pertumbuhannya togar. Bibit yang digunakan adalah bibit yang telah berumur  6-8 bulan. Pelaksanaan okulasi tanaman jeruk di UPITPH menggunakan batang bawah varieties Japanese citroen (JC) dan untuk batang atas digunakan varieties siam Pontianak, Wangkang dan       Pamelo.
                 
                        Okulasi yang umumnya digunakan selain mudah juga efisien dalam memanfaatkan materi tanaman, yaitu cara okulasi irisan (chip budding). Kelebihan cara okulasi irisan terletak pada kemampuan membentuk kalus sehingga pertautan mata tempel dengan batang bawah dapat terjadi dengan cepat. Pada okulasi irisan dapat dilakukan pada batang bawah relatif masih muda. Okulasi irisan dilakukan dengan cara menyayat batang bawah terlebih dahulu dengan pisau okulasi yang tajam dan steril. Pisau yang digunakan harus tajam agar irisan mata tempel dan sayatan batang bawah menjadi rata. Jarak sayatan ± 15 cm dari permukaan media tanam agar okulasi tidak terkena percikkan air atau kotoran saat penyiraman.
Panjang sayatan ± 2 cm dengan mengikuti sedikit jaringan kayunya. Kemudian dilakukan penyayatan pada tunas harus sama atau lebih kecil agar dapat melekat pada sayatan batang bawah. Sayatan pada mata tunas tidak boleh terlalu besar karena akan mengakibatkan tidak bertemunya jaringan kambium pada mata tunas dengan batang bawah sehingga persentase tumbuhnya kecil. Pada saat penempelan harus diperhatikan tata letak ketepatan atau keserasian pertautan, minimal salah satu jaringan kambium sesuai batang bawah dan jaringan mata tempel bertaut sempurna.
8.   Perawatan  pasca okulasi sampai bibit siap sebar (ditanam)
                        Dalam perawatan pasca okulasi, ujung bagian atas pada batang bawah diletakkan  3 cm  dari mata tempel untuk merangsang tumbuhnya tunas. Jika panjang tunas okulasi ± 5 cm, ujung dilekukkan dipotong dan steelah 3 bulan bibit okulasi siap disalurkan. Selain itu untuk perawatan hama dan penyakit tanaman dapat digunakan obat-obat kimia seperti cura condon. Sedangkan secara mekanik pengendalian hama penyakit tanaman dapat dilakukan dengan memangkas daun-daun yang terserang.
9.  Pengepakan bibit jeruk siap disalurkan
                        Untuk penyaluran bibit jeruk keluar daerah, UPITPH menggunakan cara pengepakan bibit dengan membungkus akar yang sudah dipotong atau dibuang ± 2 gr, dimana yang berfungsi untuk mempermudah dalam pembungkusan akar dan penghemat biaya ongkos kirim. Akar dibungkus dengan lumut, dimasukkan dalam kantong plastik kemudian diikat dengan karet, setelah semua selesai bibit tersebut disusun dalam kotak yang sudah disediakan dan siap untuk disalurkan.
           10.         Penyiapan bahan dan alat
                        Adapun bahan dan alat yang dipersiapkan dalam pelaksanaan okulasi tanaman jeruk dapat dilihat pada tabel 1 yang disajikan.
Tabel 1. Bahan dan Alat
Bahan
Alat
Batang bawah tanaman jeruk yang akan di okulasi yang diambil BF
Entries tanaman jeruk yang diambil dari
BPMT
Pupuk
Pestisida
Kapas
Alkohol 70 %
Pisau okulasi
Pelastik Es lilin
Gunting pangkas
Alat semprot
Pestisida (Solo)
Ember
Alat penyiraman
Gerobak roda 3

Sumber : UPITPH Anjongan Provinsi Kalimantan Barat





BAB IV
TINJAUAN USAHA TANI

            Tinjauan usaha tani mempunyai tujuan dalam mengetahui besar pendapatan petani yang dianalisa ini akan menyatakan bahwa usaha tani yang dilakukan layak untuk dijalankan dalam arti yang menguntungkan atau merugikan. Menurut Soeharjo dan Patong (1977), suatu usaha tani dikatakan sukses jika situasi pendapatan  memenenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.       Cukup untuk membayar semua pembelian sarana produksi termasuk biaya angkutan dan biaya administrasi yang melekat pada pembelian tersebut.
b.      Cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan, termasuk pembayaran sewa tanah dan pembayaran dana depresiasi modal.
Pangkal tolak dari hal tersebut diatas, maka untuk mencapai suatu keberhasilan dalam usahatani penerimaan harus lebih besar dari pengeluaran. Maksudnya adalah bahwa pendapatan harus mampu menutupi seluruh biaya produksi.
A.     Penerimaan
     
Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi secara fisik terhadap harga jual yang berlaku. Harga dari suatu produk merupakan faktor yang paling menentukan untuk permintaan atas produk tersebut. Namun dalam kenyataannya masih banyak usaha tani yang belum mampu menetapkan harga, sebaliknya mengetahui terlebih dahulu besarnya biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi suatu produk, karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi sesuatu yang menentukan besarnya harga pokok dari produk yang dihasilkan (Soeharjo dan Patong, 1977).
Berdasarkan hasil pengamatan dilokasi praktek lapang diketahui bahwa penerimaan yang didapat oleh UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan) besar kecilnya penerimaan tergantung dari jumlah bibit jeruk yang dihasilkan.
B.     Biaya
                  Biaya adalah semua pengeluaran yang harus dikeluarkan produsen untuk memperoleh factor-faktor produksi dan bahan-bahan penunjang lainnya yang akan didaya gunakan agar produk-produk tertentu yang telah direncanakan dapat terwujud dengan baik (Kartasapoetra, 1987).
                  Dalam usaha tani, biaya memegang peranan yang sangat penting dalam pengambilan keputusan, dimana besar kecilnya biaya yang telah dikeluarkan dalam berproduksi akan menentukan besar kecilnya harga produk yang dihasilkan.
                  Menurut Mubyanto (1987), bahwa bentuk biaya dapat dibagi atas tiga bagian yaitu :
1.      Biaya tetap, adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung dari jumlah produksi serta tidak habis dalam satu musim tanam seperti tanah, perakitan dan pajak yang telah ditetapkan.
2.      Biaya variabel, adalah biaya yang jumlahnya tergantung dari besarnya jumlah produksi serta habis dalam satu produksi serta habis dalam satu kali musim tanam seperti benih, pupuk dan obat-obatan.
3.      Biaya kotor, yaitu jumlah dari biaya tetap dan biaya variabel.
            Selanjutnya Soekartiwi (1995), menyatakan bahwa penggolongan biaya produksi dilakukan berdasarkan sifatnya. Biaya tetap adalah biaya yang tidak ada kaitannya dengan jumlah barang yang diproduksi, sedangkan petani harus tetap membayarnya berapapun jumlah komoditi yang dihasilkan usahataninya. Biaya tidak tetap adalah biaya yang berubah apabila luas usahanya berubah, biaya ini adalah adanya suatu barang yang diproduksi.
            Biaya yang diamati dalam praktek lapang di UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan) terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetapnya yaitu biaya sarana produksi yang diliputi biaya batang atas, pupuk, pestisida, polibag, gunting, pisau okulasi, plastic pembalut, cangkul, gerobak, sekop, media (tanah, sekam, pupuk kandang), pupuk anorganik. Sedangkan biaya variabelnya yaitu biaya tenaga kerja dan listrik, jadi yang dilihat dalam praktek lapang ini adalah merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel.
C.     Pendapatan
                 
Pendapatan dalam usahatani merupakan selisih yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh dalam suatu kegiatan untuk mendapatkan produksi dilapangan pertanian (Soeharjo dan Patong, 1997). Karena dalam kegiatan seorang petani bertindak sebagai pengelola, sebagai penanam modal pada usahanya, maka pendapatan ini dapat digambarkan sebagai balas jasa kerja factor-faktor produksi yang biasanya dihitung dalam jangka waktu tertentu.
                  Selanjutnya pendapatan yang diterima oleh petani akan dipengaruhi oleh besarnya usahatani sebagai perusahaan, tingginya dari hasil tanaman efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja, alat-alat dan modal pembagian suatu cabang usaha tani, serta cara pemasaran dan pendidikan petani.
                  Mubyanto (1987), mengemukakan bahwa tujuan utama usaha tani sebagai perusahaan keluarga adalah pendapatan keluarga yang terbesar serta bagian hasil pertanian tersebut untuk diperlukan oleh keluarga, dalam pengelolaan usaha tani tujuannya untuk meningkatkan produksi.
                  Pendapatan yang diamati di UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan) adalah pendapatan yang diperoleh dengan menghitung semua penerimaan yang berasal dari penjualan produksi bibit jeruk setelah dikurangi dengan pengeluaran.
D.    Analisis Biaya Usaha Tani Produksi Bibit Jeruk di UPITPH Anjongan
                  Analisis biaya usaha tani di Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Batar (Anjongan).









BAB V
MASALAH DAN PEMBAHASAN

                  A.  Masalah
                  Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan), diperoleh masalah didalam pengadaan bibit tanaman jeruk. Hal ini pada umumnya berkaitan dengan peningkatan produksi bibit jeruk. Adapun masalah-masalah yang dihadapi adalah :
1.      Rumah paranet yaitu sebagai tempat pemeliharaan bibit yang berfungsi sebagai naungan bibit hasil perbanyakkan secara vegetatif (okulasi). Rumah paranet yang ada sekarang terlalu kecil, sehingga penataan bibit tidak teratur.
2.      Penyiraman tanaman yang sulit khususnya untuk mendapatkan air pada musim kemarau yang cukup panjang.
3.      Persediaan benih jeruk untuk menghasilkan batang bawah sampai sekarang masih didatangkan dari luar Kalimantan Barat yaitu berasal dari Pulau Jawa.
4.      Ketidak siapan antara batang bawah entries yang siap okulasi.
        B. Pembahasan
Ø Terbatasnya sarana yang dibutuhkan
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, tentunya UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan) memerlukan sarana yang memadai yang dapat mendukung dan memperlancar berlangsungnya seluruh proses kegiatan yang ada di UPITPH. Mengingat pentingnya peran UPITPH, maka penambahan sarana yang dibutuhkan untuk meninngkatkan benih/bibit perlu diprioritaskan.
1.      Rumah paranet berfungsi sebagai tempat pemeliharaan bibit hasil perbanyakkan vegetatif. Rumah paranet ini dilengkapi dengan itensitas cahaya matahari 50 – 85 % yang berfungsi agar tanaman yang baru ditanam atau masih kecil dapat tumbuh dengan baik dan tidak terjadi penguapan yang tinggi, sehingga persentase hidup tanaman tinggi. Karena jumlah bibit yang tersedia banyak, namun rumah paranet yang ada kecil, maka rumah paranet yang ada perlu diperbesar, sehingga penempatan bibit hasil perbanyakkan vegetatif dapat diatur sedemikian rupa.
2.      Persediaan benih jeruk untuk batang bawah, menurut informasi yang didapat dari UPITPH Anjongan selama ini masih didatangkan dari luar Kalimantan Barat yaitu dari Pulau Jawa, maka dapat diusahakan dengan menyediakan benih dengan cara menanam pohon induk khususnya jenis Japanese Citron.
3.      Untuk meningkatkan keuntungan penjualan bibit jeruk, maka perlu diperhatikan mutu dari bibit, harga mampu bersaing tanpa meninggalkan mutu  dan promosi pada bibit yang ditawarkan, misalnya melalui pameran atau media seperti surat kabar atau majalah. Hal ini diperlukan untuk menarik minat konsumen dengan pengepakan dan pemberian label pada kemasan. Ini berarti peningkatan pendapatan akan lebih besar apabila menggunakan bibit bermutu dan harga tiap bibit dapat terjangkau oleh setiap konsumen.












BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan
                 
Berdasarkan kegiatan dilapangan dala melaksanakan praktek lapang di Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPITPH) Anjongan Kalimantan Barat, adalah sebagai berikut :
1.      Hasil okulasi tanaman jeruk yang telah dilakukan didapatkan  75 % yang berhasil.
2.      Pengokulasian yang dilakukan harus sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada.
3.      Faktor yang menentukan tingkat keberhasilan okulasi adalah factor lingkungan, kondisi batang bawah dan mata tempel atau entries, dan keterampilan pelaksanaan okulasi.
4.      Hasil yang di dapat dari praktek lapang diketahui bahwa teknik okulasi pada tanaman jeruk menunjukkan, dengan pemeliharaan yang optimal akan mendapatkan mutu bibit yang lebih baik.
5.      Dari segi pemeliharaan bibit tanaman jeruk seperti pemupukkan dan pemangkasan jeruk dilakukan untuk merangsang dan mempercepat mata tunas tempel tumbuh. Sedangkan pemberian pupuk (unsure hara) yang diberikan hanya ditujukan untuk pembenihan tunas mata tempel.
6.      UPITPH Anjongan melakukan penerapan dan pengembangan pola klonal dalam meningkatkan mutu bibit dan pohon induk, dimana perbanyakkan bibit berasal dari Pohon Induk Tunggal (PIT) yang telah ditetapkan oleh Mentri Pertanian.

B.     Saran
     
Berdasarkan hasil praktek lapang ini, maka ada nenerapa hal yang dapat penulis sarankan, yaitu :
1.      Perlunya pemasangan label pada setiap bibit yang akan disebarkan, dimana label tersebut dapat menunjukan mutu dan kesehatan bibit layak dan kelas bibit yang dapat menarik kelas konsumen.
2.      Perlu adanya teknik pada setiap tanaman jeruk yang akan di okulasi  agar dapat dilakukan dengan insentif yang membutuhkan keahlian dan keterampilan.
3.      Penambahan dan perbaikan sarana pendukung sangat dibutuhkan untuk kelancaran proses kegiatan UPITPH.



















DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agraris Kanisius (AAK). 1994, Budidaya Tanaman Jeruk, Kanisius, Yogyakarta
Kartasapoetra. AG. 1987, Ekonomi Produksi, Jakarta.
Laporan Perbanyakan Benih Hortikultura (Produksi dan Penyaluran). 2006, Dinas Pertanian, Anjongan.
Mubyanto, 1987, Kebijakan Pembangunan Ekonomi, Pembangunan Searah dan Pembangunan Pertanian, Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Profil Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Horikultura, 2006, Dinas Pertanian, Anjongan.
Sunarjono. H. 1987, Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan, Sinar Biru, Bandung.
Soeharjo dan Patong. 1977, Sendi-sendi Pokok Ilmu Usahatani, Universitas Hasanuddin.


Tidak ada komentar: