Senin, 07 September 2015
Jumat, 22 Mei 2015
KENAKALAN REMAJA
Kenakalan Remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada masa remaja atau transisi masyarakat masa kanak-kanak dan mulainya dewasa.
Kenakalan remaja dapat pula di lihat dari penampilan dan cara bicara serta tingkah lakunya terhadap orang lain. hal ini disebabkan karena pergaulan yang terlewat batas seperti mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang.
Faktor-faktor yang tidak mendukung dapat mengakibatkan seseorang bertingkah seenaknya, misalnya cara berbicara dengan orang lain kurang sopan, tidak menghormati orang yang lebih tua bahkan berani berteriak dimuka umum, seperti halnya orang gila.
Dimasa sekarang proses dan cara penanganan masalah seperti ini tidak begitu sulit, yaitu dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Memberi perhatian pada anak mulai sekarang.
2) Mengajarkan banyak hal-hal yang positif.
3) Perlu adanya bimbingan dan perhatian baik dari orang tua maupun pihak sekolah.
Perlu kita ketahui dimasa sekarang ini di beberapa media mengatakan bahwa di Negara Indonesia pemakai Narkoba dan obat-obatan lainnya, sekitar 4,2 Juta orang. begitu menyedihkan sekali betapa malunya jika mereka sebagai bangsa Indonesia tidak menghormati hukum yang berlaku di Negara sendiri.
Kamis, 13 November 2014
LAPORAN PRAKTEK LAPANG TINJAUAN TERHADAP USAHATANI BIBIT JERUK (Citrus sp.) PADA UNIT PEMBENIHAN INDUK TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA ANJONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Jeruk
(Citrus. Sp) adalah tanaman yang
sudah lama dibudidayakan di Indonesia dan dinegara-negara tropis Asia lainnya.
Sebab tanaman jeruk memang berasal dari negara-negara tropis Asia, termasuk diwilayah Indonesia. Maka tidak
mengherankan kalau orang-orang dari
Eropa tertarik terhadap jeruk Indonesia dan kawasan Asia umumnya.Di Indonesia
sejarah tanaman jeruk tidak begitu dikenal. Tanaman jeruk yang ada sekarang ini
adalah merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Belanda.Mereka mendatangkan
jeruk-jeruk manis dan keprok dari Amerika, italia. Namun sampai sekarang beberapa jenis jeruk
siam, jeruk garut, dan jeruk batu. Dalam usaha Hortikultura dikenal tiga
tingkatan, yaitu : Tingkat ilmiahnya, tingkat keseniannya dan tingkat usahanya.
Tingkat ilmiahnya menyangkut bidang penelitian atau pengetahuan tentang
pembiakan, pembuahan, peningkatan mutu, peningkatan hasil, penyimpanan,
pengolahan, pembasmian hama dan penyakit, tingkat keseniannya berbentu
keterampilan menyemai, memindahkan, mencangkok, okulasi, pemangkasan, pemeliharaan dan
sebagainya.
Kebutuhan konsumen yang cukup tinggi akan tanaman hortikultura menyebabkan usaha pengadaan bibit tanaman hortikultura terutama pada tanaman jeruk, umumnya dilakukan secara vegetatif. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya, memperbaiki sifat tanaman dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat (Sunarjono,1987).
Kebutuhan konsumen yang cukup tinggi akan tanaman hortikultura menyebabkan usaha pengadaan bibit tanaman hortikultura terutama pada tanaman jeruk, umumnya dilakukan secara vegetatif. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya, memperbaiki sifat tanaman dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat (Sunarjono,1987).
Sebelum
bergerak lebh jauh, institusi pembenihan perlu pemantapan langkah-langkah
seperti perbaikan, penambah sarana kantor dan penambahan serta pemeliharaan
serta penambahan sarana pembenihan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitas kerja dan mengantisipasi kedepan yang akan dijadikan tempat wisata agro
benih serta untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan pengunjung.
Disamping pengembangan kelembagaan tani seperti penangkaran benih melalui
pembinaan teknik produksi benih. Pengembangan industry pembenihan di UPITPH
diarahkan kepada pengembangan pohon-pohon induk dengan sistem klonalisasi
menurut mekanisme Blok Pondasi dan Blok penggandaan mata tempel. Pohon induk
yang ada di BPMT diperbnyak lagi dipenangkar menjadi Blok perbanyakan benih,
dari sinilah baru diperbanyak menjadi
benih sebar yang siap disalurkan kepada petani. Jadi keberadaan penangkar
merupakan perpanjangan tangan dari institusi pembenihan (UPITPH). Keperluan
mata entris / pucuk untuk penangkar dapat disuplai dari UPITPH. Hal ini
memudahkan pemantauan dan evaluasi terhadap tanaman yang dikembangkan. Karena
itu penangkar harus selalu dibina dan dibudidayakan (Provil UPITPH, 2006).
B.
Tujuan
Praktek Lapang
1. Tujuan
umum
a. Melatih
mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dibangku
kuliah untuk diterapkan dilapangan serta dapat menambah pengetahuan.
b. Dapat
mengamati, memahami dan menganalisa semua permasalahan yang ditemukan
dilapangan serta berusaha mencari alternatif pemecahan masalah tersebut.
c. Sebagai
studi perbandingan antara teori yang telah didapat dalam perkuliahan dan
pelaksanaan teknis dan kenyataan dilapangan.
2. Tujuan
khusus
Diharapkan
setelah melaksanakan kegiatan praktek lapang ini mahasiswa dapat mengetahui dan
memahami keadaan serta permasalahan yang ada dilapangan khususnya permasalahan
yang ada di UPITPH Anjongan.
C.
Metode
Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan praktek lapang, pengumpulan data
dan informasi dilakukan empat metode, yaitu :
1. Metode
wawancara
Wawancara
dilakukan dengan pimpinan, staf teknis dan pekerja
lapangan
UPITPH Anjongan untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan.
2.
Metode observasi
Observasi
dilakukan untuk melihat dan meninjau secara langsung keadaan dan kegiatan yang
dilaksanakan oleh UPITPH Anjongan.
3.
Metode Praktek Lapang
Mahasiswa
dituntut untuk dapat mempraktekan secara langsung dilapangan.
4.
Studi Kepustakaan
Mencari
data-data yang diperlukan melalui pustaka-pustaka untuk menunjang informasi
yang diperoleh dilapangan serta mencari alternatif pemecahan masalah yang
ditemukan.
BAB
II
KEADAAN UMUM
KEADAAN UMUM
A. Keadaan Umum Lokasi Praktek Lapang
1.
Letak Geografis, Luas dan Batas Wilayah
Unit
Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPITPH) Anjongan terletak
dikelurahan Anjongan Melancar, Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Pontianak.
Jarak dari ibu kota provinsi Kalimantan Barat kurang lebih 65 km, dari Ibu kota
Kabupaten Pontianak yaitu Mempawah kurang lebih 25 km, dan Kecamatan Sungai
Pinyuh kurang lebih 15 km. Luas wilayah UPITPH Anjongan seluruhnya 9,5 Ha, dengan batas wilayah sebagai berikut
:
a.
Sebelah Timur berbatasan dengan balai
Diklat Pertanian.
b.
Sebelah Barat berbatasan dengan
Perumahan Penduduk.
c.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan
raya.
d.
Sebelah Utara berbatasan dengan Kampung
Jagung.
2.
Topografi dan Jenis Tanah
Wilayah UPITPH Anjongan umumnya
bertopografi datar, bergelombang dan berbukit. Ketinggian tempat da permukaan
laut antara 8-12 meter. Jenis tanah didominasi oleh tanah podsolid Merah Kuning
(PMK) dengan bahan induk batuan beku, memiliki struktur tanah remah sampai
menggumpal, tekstur tanah liat berdebu dan mempunyai kedalaman top soil ± 10 cm
dengan kisaran PH sekitar 4 – 5.
3.
Iklim
berdasarkan data keadaan iklim yang
diperoleh dari stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) UPITPH untuk bulan
Juli, Agustus dan September dapat dilihat dilampiran 1. Suhu udara berkisar
27,4°c dan suhu maksimum 31,5°c. Rata–rata kelembaban nisbi 82% dengan
kecepatan angin rata-rata 0,96 km/jam.
B.
Sejarah
Berdirinya UPITPH Anjongan
UPITPH
Anjongan dikenal sebagai Balai Benih Induk Hortikultura (BBIH) pada tahun 1992.
Sebelumnya Balai Benih Induk Hortikultura Anjongan dikenal dengan Pusat Latihan
Kerja Pertanian (PLKP) yang berdiri pada tahun 1960. Selanjutnya pada tahun
1970, PLKP tersebut berubah menjadi Pusat Latihan Pertanian (PLP), yang
kemudian diubah fungsi menjadi Balai Benih Induk Hortikultura Anjongan
berdasarkan keputusan Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan No.
1.A.S.82.6 yang ditetapkan di Jakarta pada tahun 1982 tetapi baru berfungsi
pada tahun 1984 (UPITPH) Anjongan,2011.
Secara otonomi daerah pada tahun
2002, berdasarkan keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 5 Tahun 2002, Balai Benih Induk Tanaman Pangan
dan Hortikultura (UPITPH). UPITPH merupakan
salah satu Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPD) tipe B berkedudukan di Anjongan
dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Kalimantan Barat.
C.
Tugas,
Fungsi dan Peranan UPITPH Anjongan
UPITPH
Anjongan bertugas sebagai pelaksanaan teknis Dinas Pertanian Tanaman Pangan
dibidang perekayasa teknis pembudidayaan tanaman pangan dan hortikultura serta
pengujian mutu benih berdasarkan peraturan perundang-undangan yaitu berlaku :
Berdasarkan surat keputusan Gubernur
Kalimantan Barat No. 15 Tahun 2002 maka
fungsi dan peran UPITPH adalah sebagai berikut :
1.
Perencanaan dan Pelaksanaan Produksi
Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP) tanaman pangan dan hortikultura.
2.
Pemeriksaan, Pengujian dan Pengawasan
mutu varietes unggul tanaman pangan dan hortikultura.
3.
Pelaksanaan pemurnian kembali varietes
unggul tanaman pangan dan hortikultura yang sudah lama beredar.
4.
Pelaksanaan pelayanan teknis instalasi
kebun benih tanaman dan pelayanan kebutuhan informasi kegiatan teknis budidaya
tanaman pangan dan hortikultura.
5.
Pelaksanaan fasilitas studi dan
penelitian benih dan penelitian benih pertanian tanaman pangan dan
hortikultura.
6.
Pelaksanaan urusan ketatausahaan.
7.
Pelaksanaan tugas lain dibidang
pembenihan tanaman pangan dan hortikultura yang diserahkan oleh Kepala Dinas.
D. Visi dan Misi UPITPH Anjongan
1.
Visi
Unit pembenihan tanaman pangan dan hortikultura
Provinsi Kalimantan Barat mempunyai visi :
a.
Tangguh, bahwa kegiatan pengembangan
industri pembenihan menuju kearah kemandirian dan tahan terhadap pengaruh/
tekanan lingkungan yang kurang kondusif serta pengaruh krisis global.
b.
Modern, diwujudkan melalui pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna secara kreatif, inovatif, dan
antisipatif.
c.
Berbasis kerakyatan dalam upaya
pengembangan industry benih, penangkaran benih dan benih desa.
d.
Berdaya saing, diwujudkan melalui
peningkatan mutu benih berbasispemuliaan, peningkatan pelayanan, teknis benih,
perbaikan kualitas benih, dan perluasan pemasran.
e.
Ramah lingkungan, akan diwujudkan
melalui penerapan teknogi yang ramah lingkungan dengan pertanian organik.
2.
Misi
a.
Melaksanakan dan mengembangkan produksi
benih bermutu, murni dan bebas hama dan penyakit yang berdaya saing, berbasis
permuliaan dan keunggulan komperatif.
b.
Mendorong peningkatan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) Pembenihan aparat, Petani penangkar, siswa, masyarakat,
swasta/stake holder pembenihan.
c.
Mendorong pengembangan IPTEK terapan
dibidang industri pembenihan yang modern dan ramah lingkungan.
d.
Memberikan pelayanan prima mengenai
teknis instalasi kebun benih dan kebutuhan informasi kegiatan teknis budidaya
tanaman pangan dan hortikultura.
e.
Mendorong penyebarluasan penggunaan
benih bermutu kepada masyarakat, pengawalan benih yang disebarluaskan dan
melaksanakan pemurnian kembali benih varietes unggul yang sudah lama beredar
(UPITPH Anjongan,2014).
E. Sarana yang Tersedia di UPITPH
Anjongan
Adapun
sarana yang tersedia di UPITPH Anjongan adalah :
1.
Kantor
Luas kantor 200 m² yang dilengkapi dengan
ruang siding, ruang kepala, dan ruang khusus karyawan.
2.
Tempat Pembibitan Buah-buahan
Terdiri dari bangunan dengan ukuran 5 x 7
m², atap paranet dengan itensitas penyinaran 50 % dan 75 %. Dewasa ini sebagai
tempat perbanyakan tanaman. Pada tempat ini dilakukan pemeliharaan tanaman yang
berasal dari persemaian sebagai batang bawah dan tempat pemeliharaan bibit
perbanyakan.
3.
Blok Fondasi (BF)
Blok Fondasi (BF) merupakan bangunan khas
dengan konstruksi tiang besi, dinding
dan atapnya dari kawat kasa. Luas bangunan ini sekitar 780 m³, dengan tinggi 5
m, panjang 26 m dan lebar 26 m. Blok fondasi berisi tanaman jeruk bebas penyakit
untuk menghasilkan mata tempel yang optimal. Tanaman jeruk di BF dengan sistem
tanam dalam 2 m x 2 m. Blok fondasi merupakan tempat yang berfungsi sebagai
sumber mata tempel untuk BPMT.
4.
Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT)
BPMT memiliki konstruksi bangunan yang
sama dengan Blok Fondasi (BF) dengan ukuran 26 m, lebar 6 m, dan tinggi 3,5 m.
BPMT berfungsi sebagai mata tempel atau
mata okulasi untuk tanaman siap sebar. Tanaman jeruk di BPMT ditanam dengan
sistem tanam secara bedengan, dalam 1 bedengan terdapat 2 baris tanaman. Lebar
bedengan yang dibuat dengan ukuran 60-80 cm dan tingginya 20-30 cm. Jarak tanam
antar baris 40-50 cm dan dalam baris 20-25 cm Tanaman jeruk yang ada di BPMT
merupakan hasil perbanyakan langsung dari BF.
5. Pre-Nusery
Pre-Nusery
merupakan
tempat penanaman bibit atau pembibitan awal yang dipergunakan sebagai batang
bawah berumur 1-3 bulan. Bangunan ini memiliki konstruksi bangunan dengan tiang
besi, dinding kawat kasa berukuran panjang 22 m, lebar 6 m, dan tingginya 2,5 m
berisi semaian jeruk untuk dijadikan batang bawah.
6.
Nusery
Nusery
adalah
tempat lanjutan dari Pre-Nusery sebelum
dilaksanakan pengokulasian yang berumur 3-6 bulan. Mempunyai konstruksi
bangunan dan ukurannya sama dengan Blok Fondasi (BF).
7.
Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus
(SMPK)
Stasiun Meteorologi berfungsi sebagai
pencatatan data iklim diwilayah tersebut. Luasnya 20 m x 20 m, yang dikelilingi
pagar kawat dengan tinggi 1,2 m. SMPK
ini terletak ditengah-tengah tanah yang terbuka dengan permukaan yang rata-rata
terdiri dari beberapa alat seperti :
Psycrometer, thermometer,
solarimeter, cup anemometer stasion, panc evavorasi kelas
A dan ombrometer.
8.
Gudang
a.
Gudang benih
Luas gudang benih ± 200 m² dengan
ventilasi yang luas dengan diberi kawat agar burung dan tikus tidak dapat
masuk. Gudang ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan benih.
b.
Gudang Alat Pertanian
Luas gedung ini sekitar 120 m² yang
digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian dan tempat perbaikan
alat pertanian yang rusak.
c.
Gudang pestisida
Digunakan sebagai tempat penyimpanan
pestisida seperti insektisida, herbisida, dan fungisida serta bahan kimia
lainnya.
d.
Gudang pupuk
Digunakan untuk penyimpanan pupuk serta
alat-alat untuk pengokulasian dan lain-lain.
9.
Screen
Tanaman
Hias
Screen
tanaman
hias ini berisi berbagai jenis tanaman hias. Di screen house ini hanya khusus
untuk tanaman hias yang memerlukan itensitas penyinaran matahari yang rendah.
10.
Laboratorium
Laboratorium terdiri dari beberapa ruangan
yaitu ruangan staf, ruangan tempat penyimpanan dan pembersihan alat, ruangan
sterilisasi, ruangan asam dan bahan kimia lain, ruangan subkultur, dan ruangan
untuk penyimpanan hasil subkultur.
11.
Tempat penginapan (MESS)
Mess terdiri dari 20 kamar yang berfungsi
untuk tempat penginapan anak-anak yang mengadakan praktek lapang maupun magang
di UPITPH Anjongan.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG
PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG
A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Praktek lapang dilaksanakan di UPITPH Anjongan Provinsi Kalimantan Barat Anjongan Kabupaten Pontianak. Praktek lapang ini berlangsung selama 1 bulan mulai tanggal 8 September sampai dengan 8 Oktober 2014.
Praktek lapang dilaksanakan di UPITPH Anjongan Provinsi Kalimantan Barat Anjongan Kabupaten Pontianak. Praktek lapang ini berlangsung selama 1 bulan mulai tanggal 8 September sampai dengan 8 Oktober 2014.
B.
Kegiatan Praktek Lapang
Kegiatan praktek lapang ini secara garis besar dapat dibagi
dalam dua jenis kegiatan yaitu dilapangan dan dikantor, kegiatan meliputi :
1. Kegiatan di kantor
Kegiatan praktek lapang ini secara garis besar dapat dibagi
dalam dua jenis kegiatan yaitu dilapangan dan dikantor, kegiatan meliputi :
1. Kegiatan di kantor
a. Mengikuti pelatihan yang diadakan di UPITPH
Anjongan.
b. Pembekalan materi.
2. Penyusunan Program Kerja
a. Program kerja praktek lapang disesuaikan
dengan jadwal kerja yang ada di UPITPH Anjongan agar dapat mempermudah dalam
pelaksanaanPraktek lapang.
b. Pengenalan
tempat pohon induk tanaman jeruk, Pohon induk tersebut digunakan untuk dapat
menghasilkan entris sambungan dan okulasi siap sebar kepetani.
c.
PengumpulandataKegiataninibertujuan
untuk mencari data-data sebagai masukkan untuk pembuatan laporan praktek lapang
diruang tata usaha.Data-data tersebut antara lain Lokasi UPITPH Anjongan,
laporan blokpenggandaan mata tempel, data iklim, data analisis usaha tani
produksi bibit jeruk dan struktur organisasi UPITPH Anjongan.
d. Diskusi
dengan pimpinan dan staf UPITPH Diskusi
ini dilaksanakan agar mahasiswa mengetahui keadaan kegiatan serta permasalahan
yang ada di UPITPH Anjongan dan diharapkan mahasiswa dapat membahas dan mencari
alternative pemecahan masalah yang ada.
3. Kegiatan
di lapangan
a.
Pengenalan batang bawah
Batang bawah yang digunakan dalam penempelan
(okulasi) adalah jenis Japanese citroen
(Jc). Menurut informasi yang didapat dari UPITPH Anjongan, Selama ini untuk
bibit batang bawah jenis Japanese citroen
(Jc) masih didatangkan dari luar Kalimantan Barat yaitu berasal dari pulau
Jawa. Hal ini disebabkan sulitnya
mendapatkan bibit dari petani yang pada umumnya tidak diusahakan secara
besar-besaran serta kurangnya pengetahuan tentang cara menghasilkan bibit yang
bebas penyakit. Keuntungan dari Japanese citroen (Jc) adalah tahan
terhadap banjir dan kekeringan yang berkepanjangan.
b. Cara perbanyakkan
1. Persiapan media tanah dan sterilisasi media
Media yang digunakan yaitu top soil, sekam,
pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2 : 1 yang kemudian disterilisasi yaitu
dengan cara memasukkan media kedalam drum berisi air yang dipanaskan
sampai 80°c atau selama 30 menit (suhu
dalam media). Setelah disterilisasi
media dimasukkan kedalam polibag yang berukuran 7,5 cm x 22 cm dan diisi media
¾ nya.
2. Penyemaian
Penyemaian benih jeruk dilakukkan di Pre
Nurserey sampai benih tumbuh dan berumur 3 bulan, pada pelaksanaan
persemaian. Benih tanaman jeruk pada
bagian lancipnya pada posisi bawah, jarak antara benih 1 cc x 0,5 cm dengan
kedalaman tanam pada media semai 30 cm.
3. Seleksi bibit
Bibit yang diambil adalah hasil pembiakkan
generative yang memiliki pertumbuhan yang baik dengan kriteria pertumbuhan
antara lain tingginya seragam, sehat, bebas hama dan penyakit, diameter batang
seragam dan berbatang lurus.
4. Penanaman
Bibit yang berumur ± 3 bulan
dan memiliki kriteria pertumbuhan yang baik sehingga dapat dipindahkan
ke polibag dan siap untuk di okulasi.
5. Pemeliharaan batang bawah
Dilakukan pemangkasan tunas saat bibit
berumur 3 bulan sampai siap diokulasi. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari.
Apabila terdapat gulma dilakukan penyiangan,untuk menghindari serangan hama dan
penyakit dapat dilakukan pengontrolan secara rutin agar apabila terdapat gejala
serangan dapat dikendalikan sedini mungkin.
6. Pengambilan mata entries
Mata entries yang diambil adalah yang
mengarah atau tegak keatas dan tidak bengkok atau mudah lentur. Mata entries
diambil dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) yang sudah berumur 6 bulan
setelah tanam.
7. Perbanyakkan vegetatif dengan okulasi
Bibit batang bawah dapat menggunakan jenis Japanese citroen (Jc), Citrus nobilis (NC),
Rought lemon (RL) dan jeruk manis. Varieties Japanase citroen (JC) selain
harganya terjangkau, jenis ini juga tahan terhadap penyakit busuk akar
phytophtora, serangan nematoda, penyakit roboh kecambah dan pertumbuhannya
togar. Bibit yang digunakan adalah bibit yang telah berumur 6-8 bulan. Pelaksanaan okulasi tanaman jeruk
di UPITPH menggunakan batang bawah varieties Japanese citroen (JC) dan untuk
batang atas digunakan varieties siam Pontianak, Wangkang dan Pamelo.
Okulasi yang umumnya digunakan selain mudah
juga efisien dalam memanfaatkan materi tanaman, yaitu cara okulasi irisan (chip
budding). Kelebihan cara okulasi irisan terletak pada kemampuan membentuk kalus
sehingga pertautan mata tempel dengan batang bawah dapat terjadi dengan cepat.
Pada okulasi irisan dapat dilakukan pada batang bawah relatif masih muda.
Okulasi irisan dilakukan dengan cara menyayat batang bawah terlebih dahulu
dengan pisau okulasi yang tajam dan steril. Pisau yang digunakan harus tajam agar
irisan mata tempel dan sayatan batang bawah menjadi rata. Jarak sayatan ± 15 cm
dari permukaan media tanam agar okulasi tidak terkena percikkan air atau
kotoran saat penyiraman.
Panjang sayatan ± 2 cm dengan mengikuti sedikit jaringan kayunya. Kemudian dilakukan penyayatan pada tunas harus sama atau lebih kecil agar dapat melekat pada sayatan batang bawah. Sayatan pada mata tunas tidak boleh terlalu besar karena akan mengakibatkan tidak bertemunya jaringan kambium pada mata tunas dengan batang bawah sehingga persentase tumbuhnya kecil. Pada saat penempelan harus diperhatikan tata letak ketepatan atau keserasian pertautan, minimal salah satu jaringan kambium sesuai batang bawah dan jaringan mata tempel bertaut sempurna.
Panjang sayatan ± 2 cm dengan mengikuti sedikit jaringan kayunya. Kemudian dilakukan penyayatan pada tunas harus sama atau lebih kecil agar dapat melekat pada sayatan batang bawah. Sayatan pada mata tunas tidak boleh terlalu besar karena akan mengakibatkan tidak bertemunya jaringan kambium pada mata tunas dengan batang bawah sehingga persentase tumbuhnya kecil. Pada saat penempelan harus diperhatikan tata letak ketepatan atau keserasian pertautan, minimal salah satu jaringan kambium sesuai batang bawah dan jaringan mata tempel bertaut sempurna.
8. Perawatan pasca
okulasi sampai bibit siap sebar (ditanam)
Dalam perawatan pasca okulasi, ujung bagian
atas pada batang bawah diletakkan 3
cm dari mata tempel untuk merangsang
tumbuhnya tunas. Jika panjang tunas okulasi ± 5 cm, ujung dilekukkan dipotong
dan steelah 3 bulan bibit okulasi siap disalurkan. Selain itu untuk perawatan
hama dan penyakit tanaman dapat digunakan obat-obat kimia seperti cura condon.
Sedangkan secara mekanik pengendalian hama penyakit tanaman dapat dilakukan
dengan memangkas daun-daun yang terserang.
9. Pengepakan bibit jeruk siap disalurkan
Untuk penyaluran bibit jeruk keluar daerah,
UPITPH menggunakan cara pengepakan bibit dengan membungkus akar yang sudah
dipotong atau dibuang ± 2 gr, dimana yang berfungsi untuk mempermudah dalam
pembungkusan akar dan penghemat biaya ongkos kirim. Akar dibungkus dengan
lumut, dimasukkan dalam kantong plastik kemudian diikat dengan karet, setelah
semua selesai bibit tersebut disusun dalam kotak yang sudah disediakan dan siap
untuk disalurkan.
10. Penyiapan
bahan dan alat
Adapun
bahan dan alat yang dipersiapkan dalam pelaksanaan okulasi tanaman jeruk dapat
dilihat pada tabel 1 yang disajikan.
Tabel
1. Bahan dan Alat
Bahan
|
Alat
|
Batang bawah tanaman
jeruk yang akan di okulasi yang diambil BF
Entries tanaman jeruk
yang diambil dari
BPMT
Pupuk
Pestisida
Kapas
Alkohol 70 %
|
Pisau okulasi
Pelastik Es lilin
Gunting pangkas
Alat semprot
Pestisida (Solo)
Ember
Alat penyiraman
Gerobak roda 3
|
Sumber : UPITPH Anjongan Provinsi Kalimantan Barat
BAB
IV
TINJAUAN USAHA TANI
TINJAUAN USAHA TANI
Tinjauan
usaha tani mempunyai tujuan dalam mengetahui besar pendapatan petani yang
dianalisa ini akan menyatakan bahwa usaha tani yang dilakukan layak untuk
dijalankan dalam arti yang menguntungkan atau merugikan. Menurut Soeharjo dan
Patong (1977), suatu usaha tani dikatakan sukses jika situasi pendapatan memenenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Cukup
untuk membayar semua pembelian sarana produksi termasuk biaya angkutan dan
biaya administrasi yang melekat pada pembelian tersebut.
b. Cukup
untuk membayar bunga modal yang ditanamkan, termasuk pembayaran sewa tanah dan
pembayaran dana depresiasi modal.
Pangkal
tolak dari hal tersebut diatas, maka untuk mencapai suatu keberhasilan dalam
usahatani penerimaan harus lebih besar
dari pengeluaran. Maksudnya adalah bahwa pendapatan harus mampu menutupi
seluruh biaya produksi.
A.
Penerimaan
Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi secara fisik terhadap harga jual yang berlaku. Harga dari suatu produk merupakan faktor yang paling menentukan untuk permintaan atas produk tersebut. Namun dalam kenyataannya masih banyak usaha tani yang belum mampu menetapkan harga, sebaliknya mengetahui terlebih dahulu besarnya biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi suatu produk, karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi sesuatu yang menentukan besarnya harga pokok dari produk yang dihasilkan (Soeharjo dan Patong, 1977).
Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi secara fisik terhadap harga jual yang berlaku. Harga dari suatu produk merupakan faktor yang paling menentukan untuk permintaan atas produk tersebut. Namun dalam kenyataannya masih banyak usaha tani yang belum mampu menetapkan harga, sebaliknya mengetahui terlebih dahulu besarnya biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi suatu produk, karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi sesuatu yang menentukan besarnya harga pokok dari produk yang dihasilkan (Soeharjo dan Patong, 1977).
Berdasarkan hasil
pengamatan dilokasi praktek lapang diketahui bahwa penerimaan yang didapat oleh
UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan) besar kecilnya penerimaan
tergantung dari jumlah bibit jeruk yang dihasilkan.
B.
Biaya
Biaya
adalah semua pengeluaran yang harus dikeluarkan produsen untuk memperoleh
factor-faktor produksi dan bahan-bahan penunjang lainnya yang akan didaya gunakan
agar produk-produk tertentu yang telah direncanakan dapat terwujud dengan baik
(Kartasapoetra, 1987).
Dalam
usaha tani, biaya memegang peranan yang sangat penting dalam pengambilan
keputusan, dimana besar kecilnya biaya yang telah dikeluarkan dalam berproduksi
akan menentukan besar kecilnya harga produk yang dihasilkan.
Menurut Mubyanto (1987), bahwa bentuk biaya dapat
dibagi atas tiga bagian yaitu :
1. Biaya
tetap, adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung dari jumlah produksi serta
tidak habis dalam satu musim tanam seperti tanah, perakitan dan pajak yang
telah ditetapkan.
2. Biaya
variabel, adalah biaya yang jumlahnya tergantung dari besarnya jumlah produksi
serta habis dalam satu produksi serta habis dalam satu kali musim tanam seperti
benih, pupuk dan obat-obatan.
3. Biaya
kotor, yaitu jumlah dari biaya tetap dan biaya variabel.
Selanjutnya
Soekartiwi (1995), menyatakan bahwa penggolongan biaya produksi dilakukan
berdasarkan sifatnya. Biaya tetap adalah biaya yang tidak ada kaitannya dengan
jumlah barang yang diproduksi, sedangkan petani harus tetap membayarnya
berapapun jumlah komoditi yang dihasilkan usahataninya. Biaya tidak tetap
adalah biaya yang berubah apabila luas usahanya berubah, biaya ini adalah
adanya suatu barang yang diproduksi.
Biaya
yang diamati dalam praktek lapang di UPITPH Provinsi Kalimantan Barat
(Anjongan) terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetapnya yaitu
biaya sarana produksi yang diliputi biaya batang atas, pupuk, pestisida,
polibag, gunting, pisau okulasi, plastic pembalut, cangkul, gerobak, sekop,
media (tanah, sekam, pupuk kandang), pupuk anorganik. Sedangkan biaya
variabelnya yaitu biaya tenaga kerja dan listrik, jadi yang dilihat dalam
praktek lapang ini adalah merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya
variabel.
C.
Pendapatan
Pendapatan dalam usahatani merupakan selisih yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh dalam suatu kegiatan untuk mendapatkan produksi dilapangan pertanian (Soeharjo dan Patong, 1997). Karena dalam kegiatan seorang petani bertindak sebagai pengelola, sebagai penanam modal pada usahanya, maka pendapatan ini dapat digambarkan sebagai balas jasa kerja factor-faktor produksi yang biasanya dihitung dalam jangka waktu tertentu.
Pendapatan dalam usahatani merupakan selisih yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh dalam suatu kegiatan untuk mendapatkan produksi dilapangan pertanian (Soeharjo dan Patong, 1997). Karena dalam kegiatan seorang petani bertindak sebagai pengelola, sebagai penanam modal pada usahanya, maka pendapatan ini dapat digambarkan sebagai balas jasa kerja factor-faktor produksi yang biasanya dihitung dalam jangka waktu tertentu.
Selanjutnya
pendapatan yang diterima oleh petani akan dipengaruhi oleh besarnya usahatani
sebagai perusahaan, tingginya dari hasil tanaman efisiensi dalam penggunaan
tenaga kerja, alat-alat dan modal pembagian suatu cabang usaha tani, serta cara
pemasaran dan pendidikan petani.
Mubyanto
(1987), mengemukakan bahwa tujuan utama usaha tani sebagai perusahaan keluarga
adalah pendapatan keluarga yang terbesar serta bagian hasil pertanian tersebut
untuk diperlukan oleh keluarga, dalam pengelolaan usaha tani tujuannya untuk
meningkatkan produksi.
Pendapatan
yang diamati di UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan) adalah pendapatan
yang diperoleh dengan menghitung semua penerimaan yang berasal dari penjualan
produksi bibit jeruk setelah dikurangi dengan pengeluaran.
D.
Analisis
Biaya Usaha Tani Produksi Bibit Jeruk di UPITPH Anjongan
Analisis
biaya usaha tani di Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura
Provinsi Kalimantan Batar (Anjongan).
BAB V
MASALAH DAN PEMBAHASAN
MASALAH DAN PEMBAHASAN
A. Masalah
Berdasarkan hasil
observasi yang dilakukan di UPITPH Provinsi Kalimantan Barat (Anjongan),
diperoleh masalah didalam pengadaan bibit tanaman jeruk. Hal ini pada umumnya
berkaitan dengan peningkatan produksi bibit jeruk. Adapun masalah-masalah yang
dihadapi adalah :
1. Rumah
paranet yaitu sebagai tempat pemeliharaan bibit yang berfungsi sebagai naungan
bibit hasil perbanyakkan secara vegetatif (okulasi). Rumah paranet yang ada
sekarang terlalu kecil, sehingga penataan bibit tidak teratur.
2. Penyiraman
tanaman yang sulit khususnya untuk mendapatkan air pada musim kemarau yang
cukup panjang.
3. Persediaan
benih jeruk untuk menghasilkan batang bawah sampai sekarang masih didatangkan
dari luar Kalimantan Barat yaitu berasal dari Pulau Jawa.
4. Ketidak
siapan antara batang bawah entries yang siap okulasi.
B. Pembahasan
Ø Terbatasnya
sarana yang dibutuhkan
Dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya, tentunya UPITPH Provinsi Kalimantan Barat
(Anjongan) memerlukan sarana yang memadai yang dapat mendukung dan memperlancar
berlangsungnya seluruh proses kegiatan yang ada di UPITPH. Mengingat pentingnya
peran UPITPH, maka penambahan sarana yang dibutuhkan untuk meninngkatkan
benih/bibit perlu diprioritaskan.
1.
Rumah paranet berfungsi sebagai tempat
pemeliharaan bibit hasil perbanyakkan vegetatif. Rumah paranet ini dilengkapi
dengan itensitas cahaya matahari 50 – 85 % yang berfungsi agar tanaman yang
baru ditanam atau masih kecil dapat tumbuh dengan baik dan tidak terjadi
penguapan yang tinggi, sehingga persentase hidup tanaman tinggi. Karena jumlah
bibit yang tersedia banyak, namun rumah paranet yang ada kecil, maka rumah
paranet yang ada perlu diperbesar, sehingga penempatan bibit hasil perbanyakkan
vegetatif dapat diatur sedemikian rupa.
2.
Persediaan benih jeruk untuk batang
bawah, menurut informasi yang didapat dari UPITPH Anjongan selama ini masih
didatangkan dari luar Kalimantan Barat yaitu dari Pulau Jawa, maka dapat
diusahakan dengan menyediakan benih dengan cara menanam pohon induk khususnya
jenis Japanese Citron.
3.
Untuk meningkatkan keuntungan penjualan
bibit jeruk, maka perlu diperhatikan mutu dari bibit, harga mampu bersaing
tanpa meninggalkan mutu dan promosi pada
bibit yang ditawarkan, misalnya melalui pameran atau media seperti surat kabar
atau majalah. Hal ini diperlukan untuk menarik minat konsumen dengan pengepakan
dan pemberian label pada kemasan. Ini berarti peningkatan pendapatan akan lebih
besar apabila menggunakan bibit bermutu dan harga tiap bibit dapat terjangkau
oleh setiap konsumen.
BAB
IV
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan dilapangan dala melaksanakan praktek lapang di Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPITPH) Anjongan Kalimantan Barat, adalah sebagai berikut :
Berdasarkan kegiatan dilapangan dala melaksanakan praktek lapang di Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPITPH) Anjongan Kalimantan Barat, adalah sebagai berikut :
1. Hasil
okulasi tanaman jeruk yang telah dilakukan didapatkan 75 % yang berhasil.
2. Pengokulasian
yang dilakukan harus sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada.
3. Faktor
yang menentukan tingkat keberhasilan okulasi adalah factor lingkungan, kondisi
batang bawah dan mata tempel atau entries, dan keterampilan pelaksanaan
okulasi.
4. Hasil
yang di dapat dari praktek lapang diketahui bahwa teknik okulasi pada tanaman
jeruk menunjukkan, dengan pemeliharaan yang optimal akan mendapatkan mutu bibit
yang lebih baik.
5. Dari
segi pemeliharaan bibit tanaman jeruk seperti pemupukkan dan pemangkasan jeruk
dilakukan untuk merangsang dan mempercepat mata tunas tempel tumbuh. Sedangkan
pemberian pupuk (unsure hara) yang diberikan hanya ditujukan untuk pembenihan
tunas mata tempel.
6. UPITPH
Anjongan melakukan penerapan dan pengembangan pola klonal dalam meningkatkan
mutu bibit dan pohon induk, dimana perbanyakkan bibit berasal dari Pohon Induk
Tunggal (PIT) yang telah ditetapkan oleh Mentri Pertanian.
B. Saran
Berdasarkan hasil praktek lapang ini, maka ada nenerapa hal yang dapat penulis sarankan, yaitu :
Berdasarkan hasil praktek lapang ini, maka ada nenerapa hal yang dapat penulis sarankan, yaitu :
1.
Perlunya pemasangan label pada setiap
bibit yang akan disebarkan, dimana label tersebut dapat menunjukan mutu dan
kesehatan bibit layak dan kelas bibit yang dapat menarik kelas konsumen.
2.
Perlu adanya teknik pada setiap tanaman
jeruk yang akan di okulasi agar dapat
dilakukan dengan insentif yang membutuhkan keahlian dan keterampilan.
3.
Penambahan dan perbaikan sarana
pendukung sangat dibutuhkan untuk kelancaran proses kegiatan UPITPH.
DAFTAR PUSTAKA
Aksi
Agraris Kanisius (AAK). 1994, Budidaya Tanaman Jeruk, Kanisius, Yogyakarta
Kartasapoetra.
AG. 1987, Ekonomi Produksi, Jakarta.
Laporan
Perbanyakan Benih Hortikultura (Produksi dan Penyaluran). 2006, Dinas
Pertanian, Anjongan.
Mubyanto,
1987, Kebijakan Pembangunan Ekonomi, Pembangunan Searah dan Pembangunan
Pertanian, Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Profil
Unit Pembenihan Induk Tanaman Pangan dan Horikultura, 2006, Dinas Pertanian,
Anjongan.
Sunarjono.
H. 1987, Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan, Sinar Biru, Bandung.
Soeharjo
dan Patong. 1977, Sendi-sendi Pokok Ilmu Usahatani, Universitas Hasanuddin.
Langganan:
Komentar (Atom)